Skip to main content

Translation ENG - ID : The Splendid and The Vile

 


BAB 1

  Sang Pemeriksa Kematian Pergi 

 

  Mobil-mobil memacu kecepatannya di sepanjang Mall, bulevar luas yang membentang di antara Whitehall, pusat kementerian pemerintah Inggris, dan Istana Buckingham, rumah Raja George VI dan Ratu Elizabeth dengan 775 kamarnyabatu-batu fasad bangunan sekarang terlihat dari ujung jalan, gelap berbayang. Saat itu sore hari, Jumat, 10 Mei. Di mana-mana bunga bluebell dan primrose bermekaran. Daun musim semi yang halus mengembunkan bagian atas pohon. Burung Pelikan di Taman St. James menikmati kehangatan dan pujian dari para pengunjung, sementara sepupu mereka yang tidak terlalu eksotis, angsa, berlalu kesana kemari tanpa peduli. Keindahan hari itu sangat kontras dengan semua yang telah terjadi sejak fajar, ketika pasukan Jerman menyerbu Belanda, Belgia, dan Luksemburg, menggunakan baju besi, pengebom tukik, dan pasukan parasut sungguh memberikan perasaan yang luar biasa.

Di bagian belakang mobil pertama duduk pejabat tertinggi angkatan laut Inggris, orang pertama Angkatan Laut, Winston S. Churchill, berusia enam puluh lima tahun. Dia pernah memegang jabatan yang sama di perang sebelumnya, dan sekarang di angkat lagi oleh Perdana Menteri Neville Chamberlain ketika perang diumumkan. Di mobil kedua adalah polisi penjaga Churchill, Detektif Inspektur Walter Henry Thompson, dari Cabang Khusus Scotland Yard, bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan Churchill. Tinggi dan ramping, dengan hidung lancip, Thompson ada dimana-mana, sering kali terlihat di media tetapi jarang disebutkan — "anjing penjaga", dalam bahasa waktu, seperti banyak lainnya yang bekerja untuk pemerintah: banyak sekali sekretaris swasta dan parlemen serta asisten dan juru ketik yang membentuk infanteri Whitehall. Tapi tidak seperti kebanyakan, Thompson selalu membawa pistol di saku mantelnya.

Churchill telah di panggil oleh raja. Bagi Thompson, setidaknya, alasannya tampak jelas. “Aku menyetir di belakang Pak Tua dengan kebanggaan yang tak terlukiskan,”tulisnya.

Churchill memasuki istana. Raja George berusia empat puluh empat tahun dan memasuki tahun keempat pemerintahannya. Knock-kneed, ikan berbibir, dengan telinga yang sangat besar, dan dibebani dengan gagap yang signifikan, dia tampak rapuh, terutama dibandingkan dengan tamunya, yang, meskipun tiga inci lebih pendek, memiliki lebar tubuh yang jauh lebih besar. Raja curiga terhadap Churchill. Simpati Churchill untuk Edward VIII, kakak laki-laki sang raja, yang memiliki kisah percintaan dengan seorang janda Amerika Wallis Simpson tidak lagi memiliki kontrol terhadap krisis di tahun 1936, tetap menjadi titik abrasi antara Churchill dan keluarga kerajaan. Raja juga tersinggung atas kritik Churchill sebelumnya terhadap Perdana Menteri Chamberlain atas Perjanjian Munich tahun 1938, yang memungkinkan Hitler mencaplok sebagian Cekoslovakia. Raja menyembunyikan ketidakpercayaan pada kebebasan berbicara Churchill dan ketidak-stabilan kesetiaan politiknya.

Dia meminta Churchill untuk duduk dan menatapnya dengan tajam untuk beberapa saat, yang kemudian digambarkan Churchill sebagai cara untuk mencari jawaban atas suatu pertanyaan.

Raja berkata: "Saya rasa Anda tidak tahu alasan di undang kemari?"

“Tuanku, saya tidak bisa membayangkan alasannya. "

-

Sudah terjadi pemberontakan di DPR yang membuat Pemerintahan Chamberlain terhuyung-huyung. Pemberontakan itu meledak dalam konteks debat atas kegagalan Inggris mengusir pasukan Jerman dari Norwegia,

yang diduduki Jerman sebulan sebelumnya. Churchill, sebagai orang pertama Angkatan Laut, bertanggung jawab atas komponen angkatan laut dari upaya tersebut. Sekarang Inggrislah yang menghadapi penggusuran, dalam menghadapi serangan ganas Jerman yang tidak terduga.Bencana itu memicu seruan untuk perubahan pemerintah. Dalam pandangan para pemberontak, Chamberlain, usia tujuh puluh satu tahun, di panggil dengan berbagai julukan “Pemeriksa kematian” dan “Payung Tua,” tidak mampu mengatur perang yang berkembang pesat. Dalam pidatonya pada tanggal 7 Mei, salah satu anggota Parlemen, Leopold Amery, mengarahkan kecaman keras kepada Chamberlain, meminjam kata-kata yang digunakan oleh Oliver Cromwell pada tahun 1653: “Anda telah duduk terlalu lama di sini untuk kebaikan yang selama ini Anda lakukan! Pergilah, dan biarkan kami tanpa dirimu! Dengan nama Tuhan, pergilah! "

DPR mengadakan mosi percaya, dengan cara "divisi," di mana

anggota berbaris di lobi dalam dua baris, untuk menentukan ya atau tidak, di hitung melalui tally, yang mencatat dan menghitung suara mereka. Sekilas, penghitungan tersebut akan menjadi kemenangan bagi Chamberlain — 281 ya dibandingkan 200 tidak — tetapi pada kenyataannya, dibandingkan dengan pemilihan suara sebelumnya, hasiini menunjukkan seberapa besar dia telah kehilangan pendukung.

Setelah itu, Chamberlain bertemu dengan Churchill dan memberitahunya bahwa dia berencana untuk mengundurkan diri. Churchill, ingin terlihat setia, membujuknya untuk bertahan. Ini membesarkan hati raja tetapi membuat marah seorang pemberontak, khawatir dengan kemungkinan Chamberlain mungkin mencoba untuk tetap bertahan, menyamakan Chamberlain dengan "sepotong permen karet tua dan kotor yang lengket di kaki kursi."

Pada hari Kamis, 9 Mei, kekuatan yang menentang Chamberlain semakin yakin dengan tekad mereka. Saat hari semakin larut, kepergiannya semakin terasa sebagai sebuah kepastian, dan dua orang muncul dengan cepat sebagai kandidat yang paling mungkin menggantikannya: sekretaris luar negerinya, Lord Halifax, dan orang pertama Angkatan Laut, Churchill, yang di puja oleh sebagian besar publik.

Tapi kemudian tibalah hari Jumat, 10 Mei, dan serangan kilat Hitler diketiga negara yang berhasil ditaklukkan. Berita itu menimbulkan kesuraman di seluruh Whitehall, meskipun untuk Chamberlain itu membawa secercah harapan baru untuk mempertahankan posnya. Tentunya DPR akan setuju bahwa dengan peristiwa-peristiwa penting yang sedang berlangsung, sangatlah bodoh untuk mengubah pemerintahan. Namun para pemberontak, menjelaskan bahwa mereka tidak akan mengabdi di bawah Chamberlain, dan mendorong pengangkatan Churchill.

Chamberlain menyadari dia tidak punya pilihan selain mengundurkan diri. Dia mendesak Lord Halifax untuk menerima pekerjaan itu. Halifax tampaknya lebih stabil daripada Churchill, lebih sedikit kemungkinan untuk membawa Inggris ke dalam bencana baru. Di dalam Whitehall,Churchill diakui sebagai orator yang brilian, meskipun di anggap oleh banyak orang kurang baik dalam mengambil keputusan. Halifax sendiri menyebut Churchil sebagai "gajah nakal." Tetapi Halifax, meragukan kemampuannya sendiri untuk memimpin di saat perang, tidak menginginkan pekerjaan itu. Dia membuat ini sangat jelas saat di kirim seorang utusan untuk mencoba mengubah pikirannya menemukan bahwa dia telah pergi ke dokter gigi.

Tinggal raja yang memutuskan. Dia memanggil Chamberlain. "Saya menerima pengunduran dirinya," tulis raja dalam buku hariannya, "dan mengatakan betapa tidak adilnya perlakuan terhadap dirinyadan bahwa saya sangat menyesal atas semua kontroversi yang terjadi."

Kedua pria itu berbicara tentang pengganti Chamberlain. "Saya, tentu saja, menyarankan Halifax," tulis raja. Dia menganggap Halifax "sudah pasti menggantikannya".

Tapi sekarang Chamberlain mengejutkannya: Dia merekomendasikan Churchill.

Raja menulis, “Saya memanggil Winston & memintanya untuk membentuk Pemerintahan. Churchill menerimanya dan mengatakan bahwa dia tidak mengira ini adalah alasan raja memanggilnya ”—meski Churchill, menurut cerita raja, sudah memiliki nama beberapa pria yang sedang dia pertimbangkan untuk kabinetnya sendiri.

-

Mobil yang membawa Churchill dan Inspektur Thompson kembali ke

Markas Angkatan Laut, markas komando angkatan laut di London dan, untuk sementara waktumenjadi rumah Churchill. Kedua pria itu meninggalkan mobil mereka. Seperti biasa, Thompson memasukkan satu tangannya di saku mantel siap siaga dengan pistolnya. Para penjaga tetap berjaga dengan memegang senapan bayonet, seperti yang dilakukan tentara lainnya

dengan senapan mesin ringan Lewis, dilindungi karung pasir. Di sebelahnya

di taman St. James's Park, laras panjang senjata antipesawat menonjol

ke atas pada sudut stalagmitik.

Churchill berpaling ke Thompson. “Kamu tahu kenapa aku di panggil ke Istana Buckingham, "katanya.

Thompson mengetahuinya, dan mengucapkan selamat, tetapi menambahkan bahwa dia berharap pemanggilan bisa lebih awal, dan di waktu yang lebih baik, karena besarnya tugas keamanan negara yang terbentang di depan.

"Hanya Tuhan yang tahu betapa hebatnya tugas itu," kata Churchill.

Kedua pria itu berjabat tangan, sama seriusnya seperti para pelayat di pemakaman. "Saya berharap tugas ini belum terlambat," kata Churchill. “Saya sangat takut akan hal itu. Tapi kita hanya bisa melakukan yang kita bisa, dan memberikan semua yang kita miliki — apapun tugas yang tersisa. ”

Ini adalah kata-kata yang bijaksana, meskipun di dalam hati, Churchill sangat gembira. Dia telah menjalani seluruh hidupnya untuk saat ini. Bahwa kesempatan itu datang pada saat yang sangat gelap tidaklah penting. Sebaliknyajustru membuat pengangkatannya lebih berkelas.

Dalam cahaya yang remang, Inspektur Thompson melihat air mata mulai mengalir di pipi Churchill. Thompson, juga, mendapati dirinya hampir menangis.

-

Larut di malam itu Churchill berbaring di tempat tidur, terjaga dengan perasaan yang mendebarkan antara tantangan dan kesempatan. “Sepanjang pengalaman politik,” dia menulis, “Saya pernah memegang sebagian besar jabatan penting Negara, tetapi saya akui bahwa jabatan yang sekarang jatuh ke tanganku adalah yang paling kusuka. " Menginginkan kekuasaan demi kekuasaan adalah pengejaran "dasar", tulisnya, menambahkan, "Tapi mendapatkan kekuasaan ketika terjadi krisis nasional, ketika seseorang yakin dapat memimpin dengan baik, adalah sebuah berkah."

Dia merasa sangat lega. “Akhirnya saya memiliki kewenangan untuk memberikan perintah di seluruh medan. Saya merasa seolah-olah saya sedang berjalan dengan takdir, dan semua masa lalu adalah persiapan untuk saat ini dan untuk cobaan ini….Walau tidak sabar menjemput pagi aku tidur nyenyak dan tidak perlu mimpi penyemangat. Fakta lebih baik daripada mimpi."

Terlepas dari keraguan yang dia ungkapkan kepada Inspektur Thompson, Churchill membawa keyakinan besar ke Downing Street No 10 bahwa di bawah kepemimpinannya Inggris akan memenangkan perang, meskipun penilaian objektif mengatakan dia tidak punya kesempatan itu. Churchill tahu bahwa tantangannya sekarang adalah membuat semua orang yakin dengan hal itu — rekan senegara, komandan, menteri kabinetnya, dan, yang paling penting, presiden Amerika, Franklin D. Roosevelt. Sejak awal, Churchill mengerti kebenaran dasar tentang perang: bahwa dia tidak bisa memenangkannya tanpa partisipasi Amerika Serikat. Dibiarkan sendiri, dia percaya,Inggris bisa bertahan dan menahan Jerman, tetapi hanya industri yang kuat dan tenaga kerja Amerika yang bisa memastikan pemberantasan terakhir Hitler dan Sosialisme Nasional.

Apa yang membuat situasi semakin menakutkan adalah bahwa Churchill harus mencapainya dengan cepat, sebelum Hitler memfokuskan perhatian penuhnya pada Inggris dan melepaskan angkatan udaranya, Luftwaffe, yang menurut intelijen Inggris jauh lebih unggul daripada Angkatan Udara Kerajaan.

-

Di tengah situasi ini, Churchill harus mengatasi segala macam tantangan lainnya. Pembayaran hutang pribadi yang sangat besar akan jatuh tempo pada akhir bulan, dan Churchill tidak punya uang untuk membayar. Putra satu-satunya, Randolph,juga diliputi hutang, terus-menerus menunjukkan keahliannya membelanjakan uang juga untuk kehilangannya dalam perjudian, dan kegagalannya menjadi legenda; dia juga seorang pemabuk dan memiliki kecenderungan untuk membuat masalah dan seperti perkataan ibunya, Clementine(diucapkan Clementeen), dia berisiko mempermalukan keluarga. Churchill juga harus berurusan dengan aturan tutup mulut dan penjagaan rahasia yang ketat serta gangguan yang meningkat dari pejabat yang berusaha menjaganya tetap aman dari pembunuhan — dan juga, paling tidak, gangguan abadi dari pasukan pekerja yang di kirim untuk membuat struktur untuk menopang dinding Downing Street No.10 dan seluruh Whitehall dari serangan udara, dengan semua gangguan kebisingan suara palu mereka yang tak berujung, yang adalah gangguan paling mengganggu dan memiliki kapasitas untuk membuatnya marah.

Kecuali mungkin bersiul.

Kebenciannya pada siulan, dia pernah berkata, adalah satu-satunya kesamaannya dengan Hitler. Lebih dari sekedar obsesi. “Hal itu mengakibatkan hampir gangguan kejiwaan dalam dirinya — sangat besar, langsung, dan irasional, ”tulis Inspektur Thompson. Suatu ketika, saat berjalan bersama ke Downing Street No.10, Thompson dan perdana menteri baru bertemu dengan seorang tukang koran, mungkin berusia tiga belas tahun, menuju ke arah mereka, "tangan di saku, koran di bawah lengannya, bersiul dengan keras dan riang,"

Thompson mengenang.

Saat anak laki-laki itu mendekat, kemarahan Churchill melonjak. Dia membungkukkan bahunya dan berjalan ke arah anak laki-laki itu. "Hentikan siulan itu," geramnya.

Anak laki-laki itu, dengan sangat tenang, menjawab, "Kenapa saya harus berhenti?"

"Karena aku tidak menyukainya dan itu adalah suara yang mengerikan."

Anak laki-laki itu lanjut berjalansambil membalikkan punggung ia berteriak, “Tapi Anda bisa menutup telinga, kan? "

Anak laki-laki itu terus berjalan.

Churchill tertegun. Kemarahan memerahkan wajahnya.

Tapi salah satu kekuatan terbesar Churchill adalah perspektif, yang memberinya kemampuan untuk menempatkan kejadian-kejadian terpisah ke dalam kotak-kotak, sehingga humor yang buruk dalam sekejap berubah menjadi kegembiraan. Saat Churchill dan Thompson terus berjalan,

Thompson melihat Churchill mulai tersenyum. Dengan pelan, Churchill

mengulangi jawaban anak laki-laki itu: "Anda bisa menutup telinga, kan?"

Dan tertawa terbahak-bahak.

-

Churchill segera mengisi kantor barunya, hal ini menggembirakan banyak orang, tapi mengkonfirmasikan ketakutan terburuk mereka.

Popular posts from this blog

Translation ENG - ID : Brainwashed: Seven Ways to Reinvent Yourself

  Pencucian-otak: Tujuh Cara Menjadi Anda Yang Baru Seth Godin   "Generations of students turned into generations of cogs, factory workers in search of a sinecure. We were brainwashed into fitting in, and then discovered that the economy wanted people who stood out instead. "Generasi pelajar berubah menjadi generasi pekerja pabrik yang mencari pekerjaan ringan. Kita di cuci-otak untuk dapat menyesuaikan diri, dan kemudian menyadari bahwa ternyata ekonomi menginginkan orang-orang yang menonjol.   When exactly were we brainwashed into believing that the best way to earn a living is to have a job?" Kapan tepatnya kita di cuci-otak untuk percaya bahwa cara terbaik untuk mencari nafkah adalah dengan memiliki  sebuah  pekerjaan?   Years ago, when you were about four years old, the system set out to persuade you of something that isn’t true. Bertahun-tahun yang lalu, ketika Anda berusia sekitar empat tahun, sistem di buat untuk meyakinkan Anda tentang sesuatu yang tidak benar.

Translation ENG - ID : I Am Malala

  Judul buku: Nama Saya Malala. Bab 1 Seorang Putri Terlahir Saat saya lahir, orang-orang di desa kami bersimpati kepada ibu dan tidak ada yang memberi selamat kepada ayah. Saya lahir saat fajar ketika bintang terakhir berkedip. Kami, Pashtun, melihat ini sebagai pertanda baik. Ayah tidak punya uang untuk biaya rumah sakit atau bidan, jadi tetangga membantu kami saat  proses kelahiran. Anak pertama orang tua saya mati dalam proses kelahiran tapi saya keluar sambil berteriak dan berteriak. Saya adalah seorang gadis di sebuah negeri di mana senapan ditembakkan untuk merayakan seorang putra, sementara para putri bersembunyi di balik tirai, peran mereka dalam hidup hanya untuk menyiapkan makanan dan melahirkan anak. Bagi kebanyakan orang Pashtun, adalah hari yang suram ketika seorang anak perempuan terlahir. Sepupu ayah saya Jehan Sher Khan Yousafzai adalah salah satu dari sedikit yang datang untuk merayakan kelahiran dan bahkan memberikan hadiah uang yang lumayan besar. Namun, dia membawa